Sistem Peladangan Suku Dayak: Dahulu, Kini, Masa Depan - Kearifan Lokal Berladang yang Sering Disalahpahami
Oleh: Admin
Selama ini sistem peladangan berpindah yang dipraktikkan suku Dayak kerap disalahpahami sebagai perusak hutan, bahkan dituding sebagai penyebab utama kebakaran lahan di Kalimantan. Buku "Sistem Peladangan Suku Dayak: Dahulu, Kini, Masa Depan" hadir untuk meluruskan persepsi tersebut melalui data, penelitian partisipatif, dan kajian budaya yang ditulis langsung oleh peneliti yang memahami tradisi berladang masyarakat Dayak dari dalam.
Ditulis oleh Prof. Dr. Suriansyah Murhaini, S.H., M.H. dan R. Masri Sareb Putra, M.A., buku terbitan Lembaga Literasi Dayak ini mengulas secara mendalam filosofi, tahapan, dan kearifan lokal dalam sistem peladangan yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad. Buku ini menegaskan bahwa ladang berbeda dengan hutan, dan praktik membakar ladang yang dilakukan secara adat bukanlah tindakan merusak lingkungan.
Struktur Pembahasan dalam Buku Ini
- Bab I – Manusia Dayak Selayang Pandang: Mengulas ladang sebagai bagian dari kebudayaan Dayak, asal-usul masyarakat Dayak, dan pandangan hidup mereka terhadap alam semesta.
- Bab II – Tanah Adat, Tanah Dayak, Tanah Warisan: Membahas sejarah istilah Dayak, konsep tanah adat, dan persebaran permukiman masyarakat Dayak di Pulau Borneo.
- Bab III – Sistem Peladangan Suku Bangsa Dayak: Menjelaskan sepuluh tahapan peladangan, mulai dari memilih lahan, menebas, menebang, membakar, menugal, merumput, memanen, hingga upacara syukur (Begawai), serta arah peladangan di masa depan.
- Bab IV – Ladang dan Aneka Seni Budaya: Mengupas hubungan peladangan dengan musim, alasan ilmiah mengapa ladang tidak merusak lingkungan, pantun Dayak, serta tradisi Gawai.
- Bab V – Ladang Orang Dayak di Era Digital: Mengaitkan kearifan lokal peladangan dengan tantangan dan peluang perkembangan zaman modern.
- Bab VI – Lumbung sebagai Simbol Kekayaan dan Puncak Peladangan: Membahas filosofi lumbung padi, tradisi dudul padi, serta dilengkapi Epilog dan Daftar Pustaka sebagai referensi akademis.
Mengapa Buku Ini Layak Dibaca?
- Meluruskan kesalahpahaman bahwa sistem peladangan Dayak merusak hutan melalui pendekatan ilmiah dan penelitian partisipatif.
- Menguraikan secara lengkap sepuluh tahapan sistem peladangan tradisional yang diwariskan turun-temurun.
- Mengangkat nilai-nilai kearifan lokal mengenai tanah adat, siklus musim, lumbung padi, dan kehidupan yang selaras dengan alam.
- Dilengkapi referensi sejarah dan literatur sehingga layak dijadikan rujukan akademik, jurnalistik, maupun advokasi kebijakan agraria dan lingkungan.
Cocok untuk Siapa?
Buku ini sangat direkomendasikan bagi:
- Mahasiswa dan akademisi bidang antropologi, hukum adat, serta lingkungan hidup.
- Peneliti dan jurnalis yang mengkaji isu masyarakat adat dan Kalimantan.
- Pembuat kebijakan di bidang agraria, kehutanan, dan lingkungan.
- Pemerhati budaya Dayak dan pelestarian kearifan lokal.
- Pembaca umum yang ingin memahami sistem peladangan Dayak dari sumber yang kredibel.
Tentang Penulis
Prof. Dr. Suriansyah Murhaini, S.H., M.H. dan R. Masri Sareb Putra, M.A. merupakan akademisi dan penulis yang aktif meneliti masyarakat Dayak, hukum adat, budaya, dan lingkungan hidup. Melalui buku ini, keduanya menghadirkan kajian yang menggabungkan perspektif ilmiah dengan pengalaman langsung terhadap tradisi peladangan masyarakat Dayak.
Spesifikasi Buku
- Judul: Sistem Peladangan Suku Dayak - Dahulu, Kini, Masa Depan
- Penulis: Prof. Dr. Suriansyah Murhaini, S.H., M.H. dan R. Masri Sareb Putra, M.A.
- Penerbit: Lembaga Literasi Dayak (LLD), Jakarta - Palangka Raya
- Tahun Terbit: Agustus 2022
- Jumlah Halaman: 116 halaman
- Bahasa: Indonesia
- Format: E-book (PDF)
- Genre: Budaya & Antropologi Dayak, Lingkungan Hidup, Hukum Adat
Cara Mendapatkan: Miliki ebook Sistem Peladangan Suku Dayak: Dahulu, Kini, Masa Depan sekarang, dan pahami secara utuh bagaimana sistem peladangan tradisional Dayak merupakan warisan kearifan lokal yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya.