Cerita Rakyat dari Jangkang: Kumpulan Legenda dan Dongeng Dayak Kalimantan Barat
Oleh: Admin
Tahukah Anda dari mana asal-usul Bukit Jambu, atau mengapa sebuah gua kelelawar di dekat air terjun Kunyo dinamai penduduk setempat "Lubang Daki"? Buku "Cerita Rakyat dari Jangkang" mengajak pembaca menyusuri belantara Kalimantan lewat enam kisah tutur yang selama ini hanya hidup dari mulut ke telinga masyarakat Dayak di Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
Ditulis oleh Fidelis Saputra, S.Pd., seorang guru dan mantan kepala sekolah di daerah terpencil Jangkang, buku ini merupakan upaya pelestarian sastra lisan Dayak sekaligus bahan bacaan nonteks pelajaran sesuai semangat Permendikbud Nomor 8 Tahun 2016 tentang buku bacaan nonteks pelajaran di satuan pendidikan. Sejak zaman Yunani kuno, karya sastra dipercaya mampu menghaluskan jiwa dan membentuk karakter; semangat itulah yang mendasari terbitnya kumpulan cerita rakyat ini, ditulis dengan bahasa yang mengalir, sarat humor, sekaligus edukatif, serta meminimalkan unsur kekerasan agar layak dibaca segala usia.
Enam Cerita Rakyat dalam Buku Ini
- Entayot: Kisah seorang tua yang cerdik mengelabui kawanan kera lapar dengan akal budinya.
- Pak Miguk: Tentang pemburu jujur yang ditolong kelelawar, berbanding terbalik dengan nasib kerabatnya yang serakah dan sombong.
- Pak Alui: Kisah jenaka seorang suami pemalas yang selalu sial saat berburu, penuh pesan moral tentang kehati-hatian.
- Ponyalik dan Kek Bomo: Legenda pertarungan pemuda pemberani melawan makhluk raksasa penunggu sungai, asal mula Bukit Jambu di Kampung Jambu, Kecamatan Jangkang.
- Domia Jambu: Kisah mistis wanita jelmaan buah jambu yang menikahi seorang pemuda, sarat pesan tentang menjaga janji dan menghormati rahasia orang lain.
- Daki Dawe: Kisah pengkhianatan dua ipar dalam pencarian madu dan kelelawar di gua, berakhir dengan pembalasan setimpal bagi si licik dan iri hati.
Setiap kisah ditutup dengan nilai-nilai kejujuran, kerja keras, kesetiaan, dan rasa hormat pada alam, khas kearifan lokal masyarakat Dayak yang hidup berdampingan dengan hutan dan sungai.
Cocok untuk Siapa?
Buku ini sangat cocok direkomendasikan bagi:
- Siswa SD dan SMP sebagai bahan bacaan yang edukatif.
- Guru serta pendidik yang mencari bahan literasi nonteks pelajaran.
- Orang tua yang ingin memperkenalkan cerita rakyat Nusantara kepada anak.
- Pemerhati sastra lisan dan budaya Dayak Kalimantan.
Tentang Penulis
Fidelis Saputra, S.Pd. lahir di Jangkang Benua, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, pada 1976. Lulusan FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini pernah mengajar di SMA Karya Pusat Damai, menjabat wakil kepala SMPN Jangkang, hingga menjadi guru daerah terpencil sekaligus kepala SMPN Ketori, Kecamatan Jangkang. Selain menulis, hobinya adalah berkebun dan memasak masakan tradisional.
Cara Mendapatkan: Miliki buku digital ini sekarang dan bawa pulang warisan cerita rakyat Dayak yang otentik, menghibur, sekaligus penuh kearifan lokal, cocok dibaca sendiri maupun dijadikan bahan cerita pengantar tidur untuk buah hati.